Renungan dipenghujung Ramadhan

Tanpa terasa Ramadhan yang kita sambut dengan riang kini bergegas meninggalkan kita. Rasanya sedih, tamu yang agung dan penuh berkah itu, yang telah dengan sepenuh hati memenuhi hajat-hajat keperluan mendasar kita, kini akan meninggalkan kita. Padahal, sesuai tradisi lama, justeru tamulah yang seharusnya mendapatkan pelayanan. Tamulah yang seharusnya dilayani sesempurna mungkin, sehingga kita bisa dicap sebagai seorang Muslim yang "mukrimun lidhaefih" (memuliakan tamunya). Sayang, justeru perbekalan yang di bawa oleh tamu untuk kita jauh lebih besar ketimbang usaha kita sendiri untuk memenuhi tuntutan-tuntutannya.

Maka di penghujung Ramadhan ini, seharusnya semua kita gembira, namun juga seharusnya lebih banyak merenungi diri akan kegagalan-kegagalan kita dalam memenuhi hak-hak tamu kita kita. Sehingga sangat wajar kalau Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk berdoa sepanjang tahun ke depan, agar puasa mereka tahun ini kiranya diterima oleh Allah Yang Maha Rahman. Adakah perasaan "khawatir" ini ada dalam diri kita? Atau justeru dengan berlalunya Ramadhan, seolah kita telah mendapatkan "garansi" kalau kita pasti akan masuk ke dalam syurga firdaus. Akibatnya, seolah puasa selama sebulan itu telah menjadi "penutup" dari seluruh ibadah dan segala dosa-dosa mendatang. Maka sering kita lihat, di saat Ramadhan masjid-masjid masih melimpah ruah jama'ahnya, shalat sunnah malam terjaga, demikian pula bacaan al Qur'an, dst. Tapi setelah Ramadhan terlewatkan, seolah semua selesai. Maka jangankan yang sunnah-sunnah, yang wajib sekalipun terkadangcenderung terabaikan. Untuk itu, sikap yang betul adalah menempatkan diri di antara "al khauf war Rajaa" (khawatir dan harapan). Kita khawatir akan kekukarangan-kekukarangan yang ada, namun kiranya kita patut juga bergembira, walau dengan berbagai ketidak sempurnaan, kiranya kita juga telah selesai menunaikannya sesuai daya dan kemampuan yang ada. Untuk itulah, pada akhirnya kita memang patut berhari raya, untuk menandai rasa syukur dan kegembiraan kita dengan sebanyak-banyaknya membesarkan Asma Ilahi. Allah berfirman: "Dan sempurnakan bilangan puasa, dan hendaklah kamu membesarkan Asma Allah atas petunjuk yang diberikannya kepadamu, dan semoga kamu dapat bersyukur kepadaNya" (Al Baqarah: 185). Ada banyak tentunya yang harus kita syukuri, termasuk puasa, tarawih, sadaqah, bacaan Qur'an, dan berbagai ibadah lainnya, tentu dengan segalakesadaran akan kekurangan-kekurangannya. Semua kesyukuran ini seharusnya terkait dengan nilai ibadah yang telah dilakukan. Sayang, terkadang kegembiraan kita terkait oleh kegerlapan duniawi yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut Idul Fitri. Sehingga kegembiaraan kita tidak menggambarkan rasa syukur "ta'abbudi", melainkan kegembiraan duniawi yang lebih didominasi oleh kemubadziran atau sikap berlebih-lebihan. Silaturrahim atau saling mengunjungi terkadang disulap menjadi ajang pamer makanan, pakaian atau peralatan rumah tangga lainnya. Akibatnya, dengan berlalunya Ramadhan, berlalu pula pesan-pesan moral puasa, untuk hidup sederhana serta semakin sensitive dengan penderitaan sesama di sekitar kita.

0 komentar

Posting Komentar