Seni gelipang potensi budaya yang perlu kita lestarikan

Bila kita mendengar kata gelipang, tak akan terlepas dari sebuah kabupaten di wilayah Jawa Timur yaitu kabupaten Lumajang. Memang gelipang merupakan potensi budaya kabupaten Lumajang yang sekarang seolah-olah terlindas oleh kebudayaan luar dan kemajuan jaman. Bagi yang seusia muda barangkali ada yang tidak tahu apa itu tarian gelipang. Bila kita tengok kebelakang mungkin masih terasa dalam ingatan kita dimana pada masa itu gelipang merupakan tontonan yang sangat digemari dari anak-anak sampai orang tua. Kesenian gelipang adalah suatu bentuk tarian tradisional yang menggambarkan sosok seorang kesatria dengan membawa senjata lengkap berjalan dengan tegapnya serta melakukan gerakan seolah-olah seperti tentara yang lagi latihan perang.




Atraksi gelipang dimulai dengan persiapan barisan yang diselingi bunyi letusan senapan yang berasal dari petasan atau mercon. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks SK Bupati/Kepolisian oleh komandan pasukan tentang penetapan gelipang sebagai salah satu hasil warisan budaya leluhur yang diiringi dengan kepalan tangan yang diangkat keatas oleh para pasukan. Para pasukan biasanya terdiri dari 5 s/d 7 orang dengan memakai topi laksana pasukan polisi, baju dan celana diberi asesoris berupa tanda pangkat dan dasi, memanggul senapan di pundak serta tak lupa pula bagi penabuh gamelan maupun para pasukan gelipang untuk memakai kaca mata hitam.



Tarian gelipang diringi oleh instrumen musik diantaranya jidur/bedug, terbang dan sepasang gendang. ”sekarang biar lebih menarik ditambah dengan bedug Inggris alias drum”, ungkap yanto salah satu penabuh yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai penarik amal masjid dengan becak itu.

Diantara grup gelipang yang sampai saat ini masih eksis walaupun jarang manggung akan tetapi mereka tetap latihan yaitu terbang gelipang yang dipimpin oleh pak Sirri yang bertempat tinggal di desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Pak Sirri kira-kira berumur 60 tahun namun masih tetap semangat melatih anak-anak untuk menari gelipang dengan ditemani istri tercinta yang kebetulan juga beliau menjadi penabuh jidur/bedug.



’Saya pernah disuruh melatih gelipang yang dijadikan tarian kolosal di suatu sekolah menengah di Lumajang, ternyata anak-anak banyak yang menyukai”,ujar lelaki yang setiap harinya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di masjid. Kita patut berbangga kepada beliau dengan keterbatasan ekonomi (sampai tulisan ini dibuat pak Sirri masih tinggal menumpang beserta istri di salah satu ruangan masjid), namun beliau masih telaten dan sabar menjaga dan melestarikan potensi budaya asli Lumajang ini.

Glipang di kabupaten Probolinggo
sumber: http://www.probolinggokab.go.id
Tari Kiprah Glipang ini menggambarkan betapa gagah dan terampilnya para pemuda yang sedang berlatih olah keprajuritan. Perkumpulan Tari Kiprah Glipang yang terkenal berada di Desa Pendil – Banyuanyar hingga banyak orang berkeyakinan bahwa desa inilah tempat asal muasalnya kesenian ini.
Desa Pendil telah mempopulerkan kesenian ini sampai ke tempat-tempat lain diluar Probolinggo.



0 komentar

Posting Komentar